Mahasiswa Gizi STIKes Panti Rapih Perdalam Manajemen Gizi Bencana melalui Kunjungan Lapangan ke BPBD Kabupaten Magelang

Yogyakarta – Sebanyak 25 mahasiswa Semester VI Program Studi Sarjana Gizi STIKes Panti Rapih Yogyakarta mengikuti kuliah pendalaman melalui kunjungan lapangan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang pada Senin, 3 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Mata Kuliah Manajemen Gizi Disaster yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai penanganan gizi dalam situasi bencana secara nyata.

Kunjungan lapangan tersebut merupakan program tahunan Program Studi Sarjana Gizi STIKes Panti Rapih sekaligus melengkapi proses pembelajaran yang telah berlangsung selama 14 kali pertemuan teori pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Selama perkuliahan, mahasiswa telah mempelajari berbagai materi mengenai konsep bencana, siklus penanggulangan bencana, hingga respons gizi bagi berbagai kelompok usia. Namun, karena kondisi bencana tidak dapat diprediksi maupun direkayasa sebagai media pembelajaran, pengalaman langsung melalui instansi yang berwenang menjadi alternatif penting untuk memperkaya kompetensi mahasiswa.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai sistem penanggulangan bencana yang diterapkan BPBD Kabupaten Magelang, termasuk koordinasi lintas sektor, pengelolaan logistik, serta peran pelayanan gizi sebagai bagian dari subklaster kesehatan dalam klaster penanggulangan bencana nasional. Melalui paparan dan diskusi bersama tim BPBD, mahasiswa juga memahami bagaimana pelayanan gizi disiapkan sejak tahap kesiapsiagaan hingga masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.

Dosen pengampu Mata Kuliah Manajemen Gizi Disaster, Hildagardis M.E. Nai, S.KM., M.P.H., menyampaikan bahwa pembelajaran di lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan calon tenaga gizi menghadapi situasi kedaruratan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami konsep dari ruang kelas. Melalui kunjungan ke BPBD, mereka dapat melihat secara langsung bagaimana koordinasi penanggulangan bencana dilakukan, termasuk posisi strategis pelayanan gizi dalam mendukung keselamatan dan pemulihan masyarakat terdampak. Pengalaman ini diharapkan mampu membangun wawasan, keterampilan kolaborasi, serta kesiapsiagaan mereka sebagai calon tenaga gizi profesional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelayanan gizi merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam penanganan bencana karena berperan menjaga status gizi kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lanjut usia, dan penyandang penyakit tertentu. Oleh sebab itu, tenaga gizi dituntut tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam pelayanan gizi, tetapi juga mampu bekerja sama dengan berbagai subklaster lain agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih komprehensif mengenai implementasi manajemen gizi bencana di lapangan. Selain memperkuat kompetensi akademik, kunjungan tersebut juga menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan pelayanan kesehatan pada situasi darurat secara profesional, adaptif, dan kolaboratif sesuai kebutuhan masyarakat. (hms)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email