SLEMAN — STIKes Panti Rapih Yogyakarta memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Tegalsari melalui pengembangan Aloesalacca, minuman fungsional berbahan sari buah salak, bunga telang, dan jeli lidah buaya. Inovasi ini diharapkan menjadi produk khas unggulan sekaligus memperkuat Kawasan Agropolitan Pakembinangun, Kapanewon Pakem, Sleman.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut dilaksanakan pada Juni–Juli 2026 di Limasan Raharjo, Tegalsari, Pakembinangun. Kegiatan yang diikuti 25 anggota KWT Lestari ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui hibah Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula Tahun 2026.
Tim PKM STIKes Panti Rapih Yogyakarta diketuai oleh Veronica Ima Pujiastuti, S.TP., M.Gizi., dengan anggota Hiasinta Anastasia Purnawijayanti, S.TP., M.P., dan Fransisca Anjar Rina Setyani, M.Kep., Ns., Sp.Kep.M.B.
Padukuhan Tegalsari memiliki potensi budidaya lidah buaya yang telah dikembangkan sejak 2019 dan masuk dalam jejaring Tani Organik Merapi. Pelepah berkualitas grade A dipasarkan ke sejumlah swalayan, sedangkan lidah buaya yang tidak lolos sortir telah diolah KWT Lestari menjadi makanan tradisional.
Namun, daya serap bahan baku tersebut masih berkisar 20–30 persen. Produk yang dihasilkan juga umumnya memiliki umur simpan singkat, diproduksi berdasarkan pesanan, dan dipasarkan secara terbatas saat pameran UMKM.
Melihat kondisi tersebut, tim PkM mengembangkan Aloesalacca dengan memadukan lidah buaya Tegalsari dan buah salak yang banyak dihasilkan kawasan Pakem–Turi. Kedua bahan tersebut dipadukan dengan bunga telang untuk menghasilkan minuman fungsional siap minum atau ready to drink.
Aloesalacca memiliki keunggulan karena menggabungkan tiga bahan lokal yang mengandung senyawa bioaktif, termasuk senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan. Produk ini juga memanfaatkan lidah buaya yang tidak memenuhi grade pemasaran, tetapi masih layak dan aman untuk diolah, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonominya.
Dalam proses produksi, peserta dilatih menerapkan metode modifikasi pengisian panas atau modified hot filling. Teknologi ini menggunakan suhu dan waktu yang terstandar untuk membantu mengurangi risiko kontaminasi mikroorganisme, mempertahankan mutu dan kandungan fungsional bahan, serta memperpanjang umur simpan produk.
Metode tersebut relatif sederhana, menggunakan peralatan terjangkau, dan dapat diterapkan oleh kelompok masyarakat. Keunggulan ini membuat Aloesalacca berpotensi diproduksi secara berkelanjutan dan dipasarkan ke wilayah yang lebih luas.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi program dan pre-test. Peserta kemudian memperoleh materi mengenai minuman fungsional, keamanan pangan, praktik pembuatan Aloesalacca, teknik pengemasan, serta penyusunan informasi pada label produk.
Mahasiswa STIKes Panti Rapih Yogyakarta turut mendampingi KWT Lestari dalam pelatihan pemasaran digital. Peserta belajar memanfaatkan media sosial dan membuat konten promosi yang menarik untuk memperluas jangkauan konsumen.
Mitra juga memperoleh pendampingan perhitungan harga pokok produksi dan penentuan harga jual, informasi mengenai perizinan BPOM, serta berbagi pengalaman pengelolaan UMKM bersama praktisi. Tim PKM turut menyerahkan bantuan berupa alat produksi, pengemasan, penyimpanan produk, dan perangkat pendukung pemasaran yang bersumber dari hibah Kemendiktisaintek Tahun 2026.
Pada tahap akhir, peserta mengikuti post-test dan focus group discussion menggunakan analisis SWOT. Kegiatan tersebut menjadi dasar penyusunan rencana tindak lanjut terkait produksi, pembagian peran pengelola, perizinan, harga jual, dan strategi pemasaran Aloesalacca.
Program ini mendapat sambutan positif dari anggota KWT Lestari dan Kepala Padukuhan Tegalsari. Peserta terlibat aktif dalam seluruh proses, mulai dari pelatihan produksi hingga penyusunan strategi pengembangan usaha.
Melalui inovasi Aloesalacca, STIKes Panti Rapih Yogyakarta mendorong pemanfaatan potensi lokal menjadi produk yang lebih tahan lama dan bernilai ekonomi. Produk ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat serta memperkuat identitas Pakembinangun sebagai kawasan agropolitan berbasis pemberdayaan masyarakat. (hms)

