Yogyakarta — Keluarga Mahasiswa Gizi (KAMAGIZI) merayakan hari jadinya yang ke-7 melalui kegiatan edukatif bertajuk “Kamagizi Day” pada Minggu (3/5/2026) di Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Tarsisius Warak. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai pentingnya pola makan sehat sekaligus mengenalkan bahaya konsumsi Ultra Processed Food (UPF) sejak usia dini.
Kamagizi Day merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap isu kesehatan dan gizi masyarakat yang semakin relevan di tengah meningkatnya konsumsi makanan instan dan olahan. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “The Real Food Adventure: Kembali ke Taman Eden”, yang mengajak anak-anak Pendampingan Iman Anak (PIA) mengenal kembali makanan alami seperti buah, sayur, dan kacang-kacangan sebagai sumber nutrisi yang baik bagi tubuh.
Kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB dan dibuka oleh Ketua Pelaksana, Chatarina Nadia Putri, mahasiswi Program Studi Sarjana Gizi tingkat dua. Dalam sambutannya, Nadia menyampaikan bahwa edukasi gizi perlu diberikan sejak dini agar anak-anak mampu memahami pentingnya memilih makanan yang sehat di tengah banyaknya pilihan makanan praktis saat ini.
“Anak-anak sekarang sangat dekat dengan makanan instan dan camilan kemasan. Karena itu, kami ingin mengenalkan bahwa makanan alami sebenarnya lebih baik untuk kesehatan tubuh mereka,” ujarnya.
Tema yang diangkat dalam Kamagizi Day terinspirasi dari konsep kealamian dan keseimbangan hidup yang dikaitkan dengan ayat Kejadian 1:29 mengenai tumbuh-tumbuhan sebagai makanan bagi manusia. Pendekatan tersebut dipilih agar materi edukasi terasa lebih dekat, sederhana, dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Edukasi Bahaya Ultra Processed Food Melalui Aktivitas Interaktif
Pada sesi utama, peserta dikenalkan dengan pengertian Ultra Processed Food atau makanan ultra proses, contoh makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari, hingga dampaknya bagi kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan. Materi disampaikan secara ringan dan interaktif agar anak-anak dapat memahami perbedaan antara makanan alami dan makanan olahan.
Mahasiswa juga mengajak peserta bermain game mencocokkan gambar makanan sehat serta mengikuti aktivitas mewarnai bertema gizi seimbang. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga belajar mengenali pilihan makanan sehat dengan cara yang menyenangkan.
Salah satu pendamping kegiatan menyampaikan bahwa metode edukasi interaktif menjadi cara efektif untuk menanamkan kebiasaan baik kepada anak-anak. Menurutnya, pemahaman tentang pola makan sehat perlu dibangun sejak usia dini karena akan memengaruhi kebiasaan mereka di masa mendatang.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk implementasi peran mahasiswa dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya kesehatan preventif. Di tengah meningkatnya kasus obesitas, diabetes, dan berbagai penyakit degeneratif akibat pola makan modern, edukasi mengenai konsumsi makanan sehat menjadi semakin penting untuk dilakukan secara berkelanjutan.
Melalui Kamagizi Day, mahasiswa berharap anak-anak PIA semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui kebiasaan makan yang baik. Tidak hanya mengenal makanan sehat, mereka juga diajak mulai membangun kesadaran bahwa pilihan makanan sehari-hari memiliki dampak besar bagi kesehatan di masa depan.
Perayaan ulang tahun KAMAGIZI ke-7 pun tidak hanya menjadi momen sukacita bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengetahuan dan kepedulian kepada masyarakat. Dengan semangat sederhana namun penuh makna, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan hidup sehat sejak dini sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen edukasi kesehatan di lingkungan sekitar. (Tys)

