STIKes Panti Rapih Yogyakarta menyelenggarakan Webinar Internasional Hipertensi bertajuk “Hypertension in the Digital Age: Innovations in Prevention, Monitoring, and Care” pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–13.00 WIB melalui Zoom ini membahas inovasi pencegahan, pemantauan, dan perawatan hipertensi melalui teknologi kesehatan, praktik keperawatan, serta intervensi gizi.
Webinar internasional ini diikuti kurang lebih 400 peserta dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Pakistan, dan Jepang. Kehadiran peserta dari berbagai negara memperluas ruang pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan hipertensi, khususnya dalam pemanfaatan teknologi, pendampingan keperawatan, dan pengaturan pola makan.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh hipertensi yang menjadi tantangan kesehatan global. Pencegahan dan pengendalian hipertensi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, tidak hanya melalui pemeriksaan tekanan darah dan pengobatan, tetapi juga pemanfaatan teknologi, metode skrining, pendampingan keperawatan, terapi komplementer, serta intervensi gizi.
Melalui Webinar Internasional Hipertensi STIKes Panti Rapih, tenaga kesehatan, pendidik, mahasiswa, praktisi, dan masyarakat memperoleh pembaruan wawasan mengenai perkembangan hipertensi secara global. Peserta juga diajak memahami metode pemantauan tekanan darah berbasis teknologi, praktik keperawatan berbasis bukti, serta penerapan pola makan DASH dan plant-based yang dapat didukung melalui layanan tele-nutrition.
Salah satu topik yang menarik perhatian adalah pemanfaatan kecerdasan artifisial dan perangkat wearable untuk pemantauan tekanan darah. Materi ini disampaikan oleh Assistant Professor Jiang Ying dari Alice Lee Centre for Nursing Studies, National University of Singapore, melalui paparan berjudul “Can a Watch Replace the Cuff? AI and Wearable Technology for Independent Blood Pressure Detection and Monitoring.”
Jiang Ying mengulas potensi jam tangan pintar, cincin pintar, dan perangkat sensor kesehatan dalam menangkap sinyal fisiologis pengguna. Data tersebut kemudian dapat diolah dengan teknologi untuk memperkirakan tekanan darah. Pemanfaatan perangkat wearable membuka peluang bagi masyarakat untuk melakukan pemantauan lebih rutin, termasuk di luar waktu kunjungan ke fasilitas kesehatan.
Meski demikian, perangkat tersebut belum sepenuhnya menggantikan pengukuran dengan manset atau tensimeter. Teknologi wearable tidak mengukur tekanan darah secara langsung. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh proses kalibrasi, kualitas sinyal, karakteristik pengguna, dan sistem pengolahan data yang digunakan. Karena itu, perangkat ini dapat menjadi alat bantu pemantauan mandiri, sedangkan pengukuran tekanan darah yang tepat tetap penting dilakukan dengan metode yang sesuai.
Dr. Chatarina Setya Widyastuti, M.Kep.Ns.Sp.Kep.M.B membahas topik “Digital Nursing Interventions.” Dalam paparannya, ia menjelaskan peran perawat dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendampingi pasien hipertensi secara berkelanjutan.
Pemantauan pasien jarak jauh, aplikasi kesehatan seluler, pengingat konsumsi obat, pencatatan tekanan darah, konsultasi daring, dan edukasi kesehatan merupakan beberapa bentuk dukungan digital yang dapat digunakan. Teknologi membantu perawat memantau perkembangan pasien, memberikan tindak lanjut ketika diperlukan, serta mendukung pasien dalam menjalankan perawatan mandiri di antara kunjungan layanan kesehatan.
Bagi masyarakat, materi tersebut menegaskan bahwa teknologi kesehatan akan memberikan manfaat optimal apabila digunakan dengan tepat dan disertai konsultasi tenaga kesehatan. Pencatatan tekanan darah secara rutin, kepatuhan terhadap pengobatan, serta perubahan gaya hidup tetap menjadi bagian penting dari pengelolaan hipertensi.
Prof. Dr Faridah Mohd Said dari School of Nursing and Applied Science, Lincoln University College, Selangor, Malaysia, menyampaikan materi “Advanced Strategies in Hypertension Management.” Ia mengulas perlunya pengelolaan hipertensi yang tidak hanya berfokus pada angka tekanan darah, tetapi juga memperhatikan risiko individual, kondisi kesehatan, gaya hidup, penyakit penyerta, dan kebutuhan pasien.
Pengelolaan hipertensi membutuhkan kolaborasi berbagai profesi kesehatan, termasuk dokter, perawat, apoteker, dietisien, dan tenaga kesehatan lainnya. Pemantauan berkelanjutan, dukungan perubahan perilaku, serta keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan menjadi bagian penting dalam mengendalikan tekanan darah dan mengurangi risiko kesehatan.
Aspek gizi dibahas oleh Diyan Yunanto Setyaji, S.Gz., M.P.H., Dietisien, melalui materi “Digital-Based Nutrition Interventions in Hypertension Management: Efficacy, Modalities, and Implementation of Telehealth and the DASH Diet.” Materi ini membahas pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dan pemanfaatan tele-nutrition dalam pengelolaan hipertensi.
Pola makan DASH menekankan asupan zat gizi penting, serat, dan protein nabati. Sementara itu, tele-nutrition dapat mendukung edukasi, konsultasi, pemantauan, serta pendampingan perubahan pola makan secara lebih terarah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan hipertensi dapat diperkuat melalui kombinasi pola hidup sehat, pendampingan profesional, dan akses teknologi.
Melalui kegiatan ini, STIKes Panti Rapih Yogyakarta menghadirkan pembahasan lintas bidang mengenai hipertensi di era digital. Integrasi teknologi kesehatan, praktik keperawatan, strategi pengelolaan klinis, dan intervensi gizi diharapkan memperluas pemahaman peserta tentang pencegahan serta perawatan hipertensi yang adaptif, berbasis bukti, dan berpusat pada pasien. (hms)

